Kamis, 17 Maret 2011

Homoseksual Menurut Pandangan Agama di Indonesia

Homoseksual secara awam kita kenal sebagai orang yang memiliki interaksi seksual dan/atau romantis dengan orang yang berjenis kelamin sama. Istilah homoseks ini lebih disukai oleh para penganutnya dibandingkan istilah gay atau lesbian. Homoseksualitas sebagai suatu pengenal, pada umumnya dibandingkan dengan heteroseksualitas dan biseksualitas. Istilah gay sendiri sebenarnya digunakan untuk orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai homoseks, baik lelaki maupun wanita. Adapun lesbian adalah suatu istilah yang hanya digunakan untuk wanita homoseks.

Homoseksual menurut pandangan agama-agama di Indonesia:

Dalam agama Katolik Roma, aktivitas homoseksual adalah sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam dan penuh dosa, sementara keinginan dan nafsu homoseksual adalah suatu kelainan.

Dalam agama Kristen, Homoseksualitas adalah hubungan yang salah, seperti dinyatakan dalam Kitab Suci, bertentangan dengan tujuan kreatif Tuhan atas seksualitas manusia. Dengan demikian kita bisa pastikan bahwa homoseksualitas bukan hasil dari penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan. Dikatakan bahwa “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya…laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka…TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’” (Kejadian 1:27, 2:18)

Dalam agama Islam, Seluruh umat islam sepakat bahwa homoseksual termasuk dosa besar. Oleh karena perbuatan yang menjijikkan inilah Allah kemudian memusnahkan kaum nabi Luth A.S dengan cara yang sangat mengerikan. Allah SWT berfirman:
Artinya:
Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, Dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas” (QS. As-Syu’ra : 165-166)

Agama Buddha tidak pernah mengutuk homoseksual atau siapapun dan itu dapat dibuktikan bahwa segala jenis pengutukan tidak pernah terjadi dalam perkembangan Agama Buddha sehingga tidak pernah tercatat dalam Kitab Suci Agama Buddha Tipitaka. Tidak ada alasan bagi pihak-pihak tertentu mengatakan bahwa Homoseksual tidak boleh menjadi umat Buddha. Agama Buddha juga tidak mendukung atau menggalakkan seseorang menjadi Gay atau Lesbian. Kata-kata yang lebih tepat adalah Agama Buddha menerima siapa saja dalam kondisi alami mereka untuk mengapai kebahagiaan, karena semua orang berhak untuk memperoleh kebahagiaan


Manurut saya sendiri, pria dan wanita yang memiliki kecenderungan homoseksual yang tersimpan di bagian dirinya yang terdalam bukanlah sesuatu yang sepele. Kecenderungan ini, yang secara jujur merupakan suatu penyimpangan, merupakan suatu cobaan berat bagi kebanyakan dari mereka. Mereka harus diterima dengan rasa hormat, kasih, dan dengan kepekaan perasaan. Setiap tanda diskriminasi yang tidak adil dalam hubungannya dengan mereka harus dihindari. Tidak sedikit orang yang dekat dengan saya mengalami kecenderungan homoseksual, sabagai seseorang yang sayang kepada mereka. Saya dituntut untuk mampu memberi motivasi pada mereka agar mampu kembali pada hukum yang benar.

1 komentar:

  1. Mbak, saya ijin copas tulisan ini ke dalam blog saya yah...


    ^_^

    BalasHapus